Kamero Bangun: Wujudkan Dumai Kota Idaman, Peran Akademisi Dibutuhkan
"Para akademisi mesti diberi ruang dalam
percepatan agenda pembangunan. Masukan yang diberikan dapat membantu pemerintah
dalam mengambil kebijakan yang akan digunakan demi kemaslahatan masyarakat Melalui
pemikiran serta kajian yang mereka lakukan, pembangunan bisa tepat sasaran dan
manfaatnya bisa lebih dirasakan," ungkap Kamero Bangun kepada tanjakberita.com,
Sabtu (10/02/24) tadi siang.
Namun disayangkan, dikatakan Kamero
Bangun apa yang terjadi sekarang ini banyak kalangan cendikiawan tidak
mempunyai andil seperti yang diharapkan. Sementara cukup banyak akademisi yang
berasal dari sejumlah kampus di Dumai.
" Selama ini belum terlihat peranan besar
kalangan akademisi. Apakah karena tidak diberi ruang, atau memang tidak ingin
melibatkan diri. Padahal kehadiran (akademisi,red) mereka bisa memberi sumbang
pemikiran berdasarkan kajian serta penelitian yang dilakukan," ujar Kamero
Bangun.
Kamero Bangun yang sehari-harinya sering
berinteraksi dengan berbagai kalangan dari beragam latar belakang profesi ini
menyampaikan Kota Dumai mempunyai potensi yang sangat luar biasa. Selain Sumber
Daya alam, letaknya juga berada di kawasan strategis. Dengan sejumlah
keunggulan itu, Dumai memiliki prospek untuk berkembang lebih pesat.
" Kalangan akademisi harus turut
terlibat dalam agenda pembangunan. Biasanya saran yang diberikan oleh
universitas adalah hasil kajian mendalam dari berbagai aspek mulai dari teknis
hingga sosial dan ekonomi. Selain itu, kalangan akademisi dianggap independen
dan memang ahli dibidangnya. Pemerintah daerah diharapkan memberi ruang lebih
bagi para akademisi yang ada di Dumai. Libatkan, dan beri mereka kepercayaan,"
harap Kamero Bangun.
Akademisi melalui Perguruan Tinggi, baik
dosen maupun mahasiswanya disampaikan Kamero Bangun, memiliki peranan strategis
dalam memajukan daerah yang mencakup empat aspek peranan utama.
Masing-masingnya sebagai educator, catalysator, facilitator dan developer guna
mengatasi berbagai permasalahan yang cukup kompleks sesuai dengan karakteristik
masing-masing daerah.
" Sebagai educator perguruan tinggi
dapat mendidik masyarakat secara langsung atau tidak. Sedangkan sebagai
catalisator melakukan inventarisasi potensi ekonomi dan kekayaan budaya melalui
riset-riset berbasis kearifan lokal. Sementara peranan facilitator dapat
dilakukan kampus melalui pendampingan untuk menggali potensi maupun kebijakan
warga dalam berkehidupan dan terakhir sebagai developer bisa membantu
mengembangkan ekonomi, sosial dan lingkungan," papar Kamero Bangun.
Terakhir disampaikan Kamero Bangun, pihaknya
berkeyakinan percepatan pembangunan menuju Dumai Kota Idaman akan lebih cepat
diwujudkan jika pemerintah memaksimalkan peran kalangan akademisi. Termasuk
memberikan dukungan anggaran untuk kepentingan riset dan kajian.
" Dumai ini bakal jadi kota besar,"
tegas Kamero Bangun optimis.(*)