Pertalite Makin Boros Pasca Kenaikan Harga, Begini penjelasan ahli Konversi Energi ITB
Administrator - Kamis, 05 Januari 2023 08:40 WIB
Ilustrasi
tanjakberita.com -Masyarakat tidak hanya mengeluhkan soal kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dari Rp7.650/liter menjadi Rp10.000/liter. Namun belakangan Pertalite dirasakan lebih boros dibanding biasanya. Diduga ada penurunan kualitas hingga Pertalite lebih cepat berkurang dibanding biasanya.
Pengguna Kendaraan bermotor merasakan minyak kendaraan mereka lebih cepat habis dibanding biasanya. Padahal penggunaan kendaraan tetap seperti sebelum naiknya harga BBM. Keluhan itu dirasakan banyak masyarakat. Mereka menduga penurunan kualitas BBM menjadi penyebab borosnya minyak kendaraan.
Hanya saja terkait penurunan kualitas itu, pihakPertaminasudah membantahnya. Saat ini kualitasPertaliteyang dijual sama seperti yang sebelum naik harga. KabarPertaliteyang menjadi lebih boros dan cepat habis akhirnya dijelaskan oleh pihak ITB.
Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB),Tri Yuswidjajanto Zaenuribongkar beberapa dugaan penyebab borosnya minyak yang dirasakan oleh masyarakat.
Menurutnya, tidak sedikit kebiasaan pemilik kendaraan yang membeli bensin berdasarkan nominal rupiah, dan bukan literan. Kenaikan hargaPertalitedengan pembelian nominal yang sama, tentu saja mengurangi jumlah literan yang didapat.
" Contoh, biasanya beli 100 ribu rupiah dapat 13,07 liter, sekarang hanya 10 liter. Karena lebih sedikit dapatnya, maka penggunaanPertaliteterasa lebih boros dari segi jarak tempuh yang bisa dicapai," ujar Pak Yus.
Selain itu,Pertalitejadi lebih boros menurutnya bisa karena BBM itu sendiri. Salah satu faktor yang berpengaruh perubahan kandungan nilai kalor di dalamnya. Nilai kalor menentukan besaran energi densitas per liter yang dihasilkan dari massa jenis bahan bakar. Nilai kalor bisa berubah dari proses pengolahan minyak mentah di kilang menjadi nafta.
" Dalam pembuatan bahan bakar, nafta yang dihasilkan terkadang bisa tinggi atau bisa rendah bergantung dari kualitas minyak mentah. Karena spesifikasi nafta hasil produksi kilang berubah-ubah terus, maka setiap parameter spesifikasi bahan bakar dinyatakan dalam batasan minimum dan maksimum," jelas Pak Yus.
PadaPertalite, dikatakannya batasan rentang massa jenis densitas energi 715 kg/m3 sampai 770 kg/m3. Ketika massa jenis yang didapat paling rendah, densitas energi yang dihasilkan lebih kecil. Sehingga energi per literPertaliteyang dibakar mesin menghasilkan tenaga yang kecil.
" Inilah yang membuat konsumsi BBM jadi lebih boros karena untuk tenaga yang setara butuh volume bahan bakar lebih banyak. Selain dari proses pengolahan, nilai kalor juga bisa berubah akibat suhu udara dan tangki bahan bakar. Pengaruhnya ke massa jenis bahan bakar yang menentukan nilai kalor untuk menghasilkan densitas energi," tutur Pak Yus.
Ketika suhu meningkat, massa jenis bahan bakar akan mengembang. Namun densitas energi yang dihasilkan bisa lebih kecil sehingga energi yang dibakar lebih rendah. Mengenai penguapan tidak mungkin terjadi.
" Kalau penguapan rasanya tidak mungkin, kerugian SPBU bisa sangat besar karena sudah ada target minimum volumePertaliteyang dijual harian. Jika penguapan berlebih, volumePertaliteyang diterima tidak sebanyak saat diisi ke kendaraan," tandasnya.**
Pengguna Kendaraan bermotor merasakan minyak kendaraan mereka lebih cepat habis dibanding biasanya. Padahal penggunaan kendaraan tetap seperti sebelum naiknya harga BBM. Keluhan itu dirasakan banyak masyarakat. Mereka menduga penurunan kualitas BBM menjadi penyebab borosnya minyak kendaraan.
Hanya saja terkait penurunan kualitas itu, pihakPertaminasudah membantahnya. Saat ini kualitasPertaliteyang dijual sama seperti yang sebelum naik harga. KabarPertaliteyang menjadi lebih boros dan cepat habis akhirnya dijelaskan oleh pihak ITB.
Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB),Tri Yuswidjajanto Zaenuribongkar beberapa dugaan penyebab borosnya minyak yang dirasakan oleh masyarakat.
Menurutnya, tidak sedikit kebiasaan pemilik kendaraan yang membeli bensin berdasarkan nominal rupiah, dan bukan literan. Kenaikan hargaPertalitedengan pembelian nominal yang sama, tentu saja mengurangi jumlah literan yang didapat.
" Contoh, biasanya beli 100 ribu rupiah dapat 13,07 liter, sekarang hanya 10 liter. Karena lebih sedikit dapatnya, maka penggunaanPertaliteterasa lebih boros dari segi jarak tempuh yang bisa dicapai," ujar Pak Yus.
Selain itu,Pertalitejadi lebih boros menurutnya bisa karena BBM itu sendiri. Salah satu faktor yang berpengaruh perubahan kandungan nilai kalor di dalamnya. Nilai kalor menentukan besaran energi densitas per liter yang dihasilkan dari massa jenis bahan bakar. Nilai kalor bisa berubah dari proses pengolahan minyak mentah di kilang menjadi nafta.
" Dalam pembuatan bahan bakar, nafta yang dihasilkan terkadang bisa tinggi atau bisa rendah bergantung dari kualitas minyak mentah. Karena spesifikasi nafta hasil produksi kilang berubah-ubah terus, maka setiap parameter spesifikasi bahan bakar dinyatakan dalam batasan minimum dan maksimum," jelas Pak Yus.
PadaPertalite, dikatakannya batasan rentang massa jenis densitas energi 715 kg/m3 sampai 770 kg/m3. Ketika massa jenis yang didapat paling rendah, densitas energi yang dihasilkan lebih kecil. Sehingga energi per literPertaliteyang dibakar mesin menghasilkan tenaga yang kecil.
" Inilah yang membuat konsumsi BBM jadi lebih boros karena untuk tenaga yang setara butuh volume bahan bakar lebih banyak. Selain dari proses pengolahan, nilai kalor juga bisa berubah akibat suhu udara dan tangki bahan bakar. Pengaruhnya ke massa jenis bahan bakar yang menentukan nilai kalor untuk menghasilkan densitas energi," tutur Pak Yus.
Ketika suhu meningkat, massa jenis bahan bakar akan mengembang. Namun densitas energi yang dihasilkan bisa lebih kecil sehingga energi yang dibakar lebih rendah. Mengenai penguapan tidak mungkin terjadi.
" Kalau penguapan rasanya tidak mungkin, kerugian SPBU bisa sangat besar karena sudah ada target minimum volumePertaliteyang dijual harian. Jika penguapan berlebih, volumePertaliteyang diterima tidak sebanyak saat diisi ke kendaraan," tandasnya.**
Penulis
: Administrator
Editor
: Administrator
Tags
Berita Terkait
Komentar