Isu Kesukuan Mulai Muncul di Pilkada Dumai 2024
JELANG Pilkada Dumai
2024, kombinasi pasangan calon berdasar latar belakang kesukuan lumayan santer
terdengar. Entah siapa yang pertama kali menghembuskan, latar belakang kesukuan
dianggap penting untuk komposisi bakal calon kepala daerah dan wakil kepala
daerah. Diantara yang terdengar yakni perpaduan pasangan dari suku
Melayu-Minang, Melayu Jawa dan lain sebagainya. Situasi tersebut sangat tidak
sehat dan bisa mengganggu keharmonisan di tengah masyarakat.
" Pilkada itu memilih pemimpin daerah,
bukan memilih kepala kampung. Harusnya yang dijadikan barometer adalah kemampuan
dalam memimpin agar daerah menjadi lebih baik. Bukan malah membangun isu
kesukuan yang rawan perpecahan," ujar pengamat politik, Adrian Hadi saat
dihubungi Kupas Media Grup, Selasa (30/04/24) tadi siang.
Menurut Adrian Hadi, keharmonisan yang
dirasakan selama ini jangan sampai dirusak oleh para pihak yang memiliki agenda
politik di Pilkada Dumai 2024. Untuk itu perlu tanggungjawab dan kesadaran
bersama.
" Berhentilah menyuarakan isu kesukuan.
Siapa saja punya hak yang sama untuk maju dan dimajukan dalam Pilkada, tapi yang
ditonjolkan jangan latar belakang kesukuannya," papar Adrian Hadi.
Sementara Peneliti senior Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro dikutip dari tempo.co berharap agenda
politik 2024 tidak diwarnai oleh isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).
Hal itu seharusnya sudah tidak lagi dijadikan perbincangan, dan pola pikir
semacam itu sudah tidak relevan berdasarkan sejarah.
" Memainkan politik identitas
menunjukkan ketidakmampuan para pelaku politik dalam mengelola isu-isu
keberagaman masyarakat. Selain itu, masyarakat jangan sampai membeda-bedakan
calon pemimpin berdasarkan SARA, namun dibedakan dari kemampuan seorang calon pemimpin,"
ujar Siti Zuhro.
Pada sisi lain pemerhati sosial, Satria
Martha mengatakan dengan waktu beberapa bulan ini perlu dicegah beberapa isu
yang mulai mencuat kembali, salah satunya isu SARA.
" Isu-isu SARA dapat memecah belah
masyarakat, mengganggu stabilitas politik, dan mengancam keharmonisan serta dapat
menimbulkan kesalahpahaman dan potensi konflik sosial," ujar Satria Martha
kepada Kupas Media Grup, Senin (30/04/24) sore tadi
Pihaknya menghimbau eksistensi ormas
keagamaan, tokoh ulama dan seluruh masyarakat harus tetap berperan menjadi
filter untuk menetralisir isu-isu tersebut agar tidak kontra-produktif.
" Harus ada kesadaran dan komitmen
kolektif untuk hal itu," tutup Satria Martha.(**)
H Paisal Catat Sejarah Baru di Dumai
Ketua PAN Dumai: Pilih yang Sudah Teruji dan Terbukti
Ferdi-Suparto dan Eddy Yatim Almainis Terseok Jauh, Peluang Menang Paisal-Sugiyarto 74 Persen
A Tito Gito: 20 Tahun Kedepan Belum Tentu di Dumai Ada Pemimpin Sehebat H Paisal, SKM, MARS
Pilkada Dumai 2024, Sucahyo Legowo, Demokrat Usung Ferdiansyah-Suparto Wiguno